Budidaya udang dan aktivitas akuakultur merupakan primadona ekonomi pesisir Indonesia. Namun, ekspansi tambak yang tidak terkontrol sering kali merusak batas alami daratan dan lautan. Dampaknya, abrasi dan banjir rob terus mengintai pemukiman warga. Yayasan menghadirkan Dinding Mangrove sebagai solusi berbasis alam (Nature-based Solutions) yang terbukti efektif memperkuat benteng pantai tanpa mengorbankan mata pencaharian petambak.
Melalui desain tata air yang bijak—mengintegrasikan kolam udang (shrimp pond), kolam penampungan (reservoir ikan nila/rumput laut), serta saluran pengelolaan air limbah (water outlet treatment dengan kerang/mussel)—mangrove bertindak sebagai penyaring alami sekaligus penahan gelombang.
Selain perbentangan mangrove, Yayasan juga merancang Ekosistem Usaha Perikanan Terpadu dari hulu ke hilir yang mencakup:
-
Penetasan benih dan budidaya di laut (marine aquaculture).
-
Kapal tangkap ikan, penyediaan es (ice storage), dan bahan bakar.
-
Pabrik pengolahan pakan serta gudang pendingin (cold storage).
-
Perawatan/perbaikan kapal dan fasilitas pengolahan sampah laut.
Pendekatan serupa diperkuat dalam Program Konservasi Penyu dan Pemberdayaan Pesisir di Dusun Legok, Desa Legok Jawa, Pangandaran [source: 5]. Program ini memadukan 3 pilar: Community-based Turtle Conservation (patroli sarang & hatchery), Education & Capacity Building, serta Controlled Eco-tourism yang menjamin manfaat ekonomi langsung bagi warga pesisir.



